On Being the Runner up

 
Posted by admin on 26th Jan, 2012


JamesGwee.net – The Best Sales of the Year, Star Award, Million Dollar Round Table, Top Sales of the Year sering terdengar sepanjang awal tahun ini. Perusahaan menghujani sales people sepanjang tahun dengan berbagai award dan bonus. Inilah moment yang paling ditunggu-tunggu para sales people. Saatnya mengevaluasi pekerjaan sepanjang tahun, apakah semua ini sesuai dengan yang diharapkan perusahaan? Dan yang paling menyenangkan: bonus dan berjuta hadiah.

Namun biasanya pemenang hanyalah minoritas. Sisanya yang lebih besar adalah mereka yang kalah. Gawatnya kalau Anda bukan cuma kalah tapi juga kritis, jauh dari target dan nyaris dipecat? Mengeringkan semangat. Kecewa. Malu. Lalu mulai menyalahkan bos yang kurang support, rekan kerja yang susah diajak bekerjasama, customer yang sulit, ekonomi Negara sedang sulit, pemerintah dan Negara yang tidak becus, atau mungkin Tuhan juga dibawa-bawa.

Jangan keburu mundur. Dari kecil Anda sudah mendengar dongeng tentang Kelinci dan Kura-Kura. Ketekunan bisa mengalahkan status quo. Kegigihan bisa membawa Anda naik melewati mereka-mereka yang dijagokan. Sayangnya semakin Anda dewasa sepertinya semua seolah sirna karena pahitnya kekalahan.

Apabila Anda pergi ke bandara-bandara di Amerika Serikat, Eropa, Australia, dan New Zealand, maka Anda akan melihat rental mobil ternama yang memiliki tagline: We are #2 that’s why we try harder! Ya, itu miliknya Avis. But, how can they proud of being just a runner-up? Kenapa bangga dengan kekalahan? The answer lies not on the predicate but on their effort. Effort itulah yang Avis jual untuk menjadi point differensiasi mereka. “We do double effort because we realize that we are not number one,” ujar mereka polos. Dan ternyata double effort inilah yang menancap di pikiran customer tentang Avis. Sehingga tanpa disadari mereka sudah menjadi nomor satu.

Nothing last forever. Supplier “KKN” bisa jatuh terkena audit. Supplier “orang dalam” bisa disingkirkan principal luar negeri yang tidak puas dengan kualitas. Supplier lama bisa terlena dengan repeat order sehingga melupakan pelayanan. Customer pun juga makin terbuka matanya karena Google dan bisa sadar bahwa pricingnya kemahalan. Nothing last forever.

Untuk itulah Anda tetap harus maintain relationship dengan customer-customer sulit. Menjadi akrab. Gali kebutuhan dan ketidakpuasan terhadap supplier “status quo”. There’s no substitute for hardwork. Menjadi kalah bisa memberi Anda peluang untuk menancapkan dalam-dalam image humble, try harder, double effort, serve better. Dan siapa tahu tahun depan mereka berpaling kepada Anda.


Reply Comment



Twitter

LATEST BLOG COMMENT

  • wilbert..situmeang:
    "Sebagai marketer....kemampuan mengompori harus diasah, agar pelanggan segera take action."

  • benaya:
    "james gwee ur my master of marketing.thx"

  • admin:
    "Bu Susianah, Kelas Silver akan mendapat Handout Materi, Sertifikat Seminar, dan Lunch. Tentunya akan ada hardcopy Handout Materi Seminar. Kami menanti tim Daikin untuk dapat bergabung dalam seminar y"

  • OTHER PRODUCTS

    Positive Business Ideas For Personal & Professional Success
    Positive Business Ideas For Personal & Professional Success Price : Rp. 40000,- Contains 1. Change Result and Action 2. Leaders...
    more

    Positive Business Ideas For Champion Sales - Part 1
    Positive Business Ideas For Champion Sales - Part 1 Price : Rp. 40000,- Sales People MUST listen to this Contains 1. Selling...
    more